Selamat datang di ZB Bloger, pada kesempatan ini saya akan berbagi pada sahabat Bloger
Bagaimana Kaifiyat Turun Untuk Sujud (Burukul Ba’ir)?
Kaifiyat Turun Untuk Sujud ialah dengan mendahulukan lutut sebelum tangan.
Dalil-dalilnya sebagai berikut:
1. Hadits Marfu (Amaliah Rasul)
عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ : رَأَيْتُ النَّبِيَّ صلّى الله عليه و سلّم إِذَا سَجَدَ وَضَعَ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ, وَإِذَا نَهَضَ رَفَعَ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ.
“Dari Wail bin Hujr, ia berkata : saya melihat Nabi saw. Apabila akan sujud, beliau mendahulukan dua lututnya sebelum dua tangannya. Dan apabila akan bangkit, beliau mengangkat dua tangannya sebelum dua lututnya. (HR. Abu Daud, Sunan Abi Dawud, Kitabus Solah, Bab Kaifa yadlo’u rukbataihi qobla yadaihi)
Hadits ini diriwayatkan pula oleh At-Tirmidzy, 2: 56 no.268, Ibnu Hibban, 3: 190 no.1909, An-Nasaiy (Al-Mujtaba),2: 287 no.889, Ad-Daruquthniy, 1: 271 no.1292.
عَنْ أَنَسٍ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلّى الله عليه و سلّم كَبَّرَ ... ثُمَّ إِنْحَطَّ بِالتَّكْبِيْرِ حَتَّى سَبَقَتْ رُكْبَتَاهُ يَدَيْهِ.
“Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah saw. Bertakbir… kemudian beliau turun (kesujud) sambal bertakbir sehingga kedua lututnya mendahului kedua tangannya,” HR. Al-Baihaqi, As-sunanul Kubra II:99; Ad-daruqutni, Sunan Ad-daruqutni I:345, Al-hakim, Al-Mustadrak I:226 redaksi hadits di atas adalah riwayat Al-baihaqy.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صلّى الله عليه و سلّم قَالَ إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِرُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ وَلَا يَبْرُكْ بِرُوْكَ الْجَمَلِ.
Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw. Ia bersabda, “Apabila seseorang diantara kamu sujud, maka mulailah dengan kedua lututnya sebelum kedua tangannya dan janganlahmenderum seperti menderum (turun untuk duduk)nya unta.” HR. Al-baihaqy, As-sunanul Kubra, II:100 dan Ibnu Abu Syaibah, Al-mushannaf, I:295.
2. Hadits Mauquf (Amaliah Umar)
حدّثَنَا وَكِيْعٌ, عَنِ الْأَعْمَشِ, عَنْ إِبْرَاهِيْمَ؛ أَنَّ عُمَرَ كَانَ يَضَعُ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ.
“Menceritakan kepada kami Waki’, dari Al-‘Amasy, dari Ibrahim bahwa Umar meletakan kedua lututnya sebelum tangannya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 1:263)
Sedangkan yang menyatakan tangan sebelum lutut, hadits-haditsnya dha’if. Adapun keterangannya sebagai berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلّى الله عليه و سلّم : إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ البَعِيْرُ, وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ.
“Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah saw telah bersabda: Apabila seseorang dari kamu sujud, maka janganlah menderum seperti menderum (turun untuk duduk)nya unta, tetapi hendaklah ia meletakan dua tangannya itu dahulu daripada dua lututnya.
Hadits ini di riwayatkan oleh A-baihaqy, As-sunanul Kubra, II:99-100; Abu Daud, Sunan Abu Daud, I:193; Ahmad, Al-musnad, III:325; Ad-daruquthni, Sunan Ad-daruquthni’ I:344 dan 345; Ad-darimi, Sunan Ad-darimi, I:303; An-nasai, As-sunanul Kubra, I:229.
Hadits tersebut dha’if. Karena semua sanadnya melalui rawi yang dha’if, yaitu Abdul Aziz bin Ad-darawardi. Ulama al-jarh wat ta’dil (kritikus rawi) telah memberikan penilaian kepada Ad-dawardi, antara lain : Abu Zur’ah berkata, “Dia buruk hapalan, terkadang ia menceritakan sesuatu dari hapalannya” An-nasi berkata “Abdul Aziz Ad-dawardi tidak kuat”. Dan pada tempat lain ia berkata, ”Tidak apa-apa dan haditsnya dari Ubaidullah bin Umar adalah munkar” Tahdzibul Kamal, XVIII:194)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صلّى الله عليه و سلّم قَالَ: يَعْمِدُ أَحَدُكُمْ فَيَبْرُكُ فِى صَلَاتِهِ بُرُوْكَ الْجَمَلِ.
Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi saw bersabda, “Seseorang diantara kamu bersandar kemudian ia menderum dalam salatnya sebagaimana menderumnya unta.” HR. At-tirmidzi, Tuhfatul Ahwadzi, II:136 dan Abu Daud, Aunul Ma’bud, III:51.
Hadits ini juga dha’if karena di riwayatkan melalui rawiAbdullah bin Nafi As-shaig. Ia adalah rawi yang dha’if sebagaimana dinyatakan para ulama sebagai berikut: Abu Hatim berkata, “Dia tidak hafidz, dia lemah hafalannya.”
Al-bukhary berkata, “pada hapalannya terdapat sesuatu”. Tahdzibul Kamal, XVI:210. Abu Zur’ah berkata, “Munkarul Hadits”. Ta’liq ‘Ala Thdzibil Kamal, XVI:210 Ibnu Hajar berkata, “Lemah pada hapalannya”. Taqribut Tahdzib, I:318.
عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلّى الله عليه و سلّم كَانَ إِذَا سَجَدَ يَضَعُ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ
Dari ibnu Umar, sesungguhnya Rasulullah saw. Bila hendak sujud, beliau menempatkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya. HR. Ad-daruquthni, Sunan Ad-daraquthni, I:27.
قَالَ نَافِعٌ : كَانَ ابْنُ عُمَرَ يَضَعُ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ.
Nafi berkata, “Ibnu Umar, beliau menempatkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya.” HR. Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, I:318-319; Ad-daruquthni, Sunan Ad-daraquthni, I:344; Ath-thawawi, syarah Ma’anil Atsar, I:254; Al-hakim Al-mustadrak, I:226; Al-baihaqi, As-sunanul Kubra, II:100.
Riwayat Ibnu Umar tersebut, baik yang marfu’ maupun yang mauquf, keduanya dha’if karena pada sanadnya terdapat rawi Ad-darawardi. Sebagaimana yang telah di jelaskan di atas.
Kesimpulan : “Kaifiyat turun untuk sujud setelah I’tidal ba’da ruku adalah dengan mendahulukan lutut kemudian tangan dan ketika bangkit mendahulukan tangan kemudian lutu.”
Kesimpulan ini di tetapkan pada siding Dewan Hisbah II Pasca Muktamar XIII, di PC. Persis Banjaran, 03 Rabi’uts Tsani 1428 H/21 April 2007 M.
Sumber : Ikhtisar 10 Masalah Seputar SALAT dan ISBAL Hal. 3-8
Bagi yang membutuhkan bukunya
Silahkan via kolom komentar atau chat via WA. 089633099798
Keterangan :
Terima Kasih Atas Kesediaan Untuk Berdonasi
















0 komentar