Senin, 20 Mei 2019

Mengepalkan Tangan Waktu Bangkit Dari Sujud Untuk Berdiri


 Selamat datang di ZB Bloger, pada kesempatan ini saya akan berbagi pada sahabat Bloger 

Bagaimana hukum Mengepalkan Tangan Waktu Bangkit Dari Sujud Untuk Berdiri?

Kaifiyat bangkit  darri sujud sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Ialah beliau mendahulukan kedua tangannya sebelum kedua lututnya. Tidak ada syari’at khusus mesti mengepalkan tangan ke tanah atau yang di sebut ‘ajin.
Namun apabila terdapat udzur, di perbolehkan menekan tangan ke tanah atau paha, sebagaimana hal ini pernah dilakukan Rasulullah saw.
Dalil-dalilnya sebagai berikut:
Pertama, hadits hadits tentang bangkit dari sujud, antara lain:
عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلّى الله عليه و سلّم إِذَا سَجَدَ وَضَعَ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ وَإِذَا نَهَضَ رَفَعَ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ
“Dari Wail bin Hujr, ia berkata : saya melihat Nabi saw. Apabilla sujud beliau menempatkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya, dan bila bangkit beliau mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya (tidak seperti unta).” HR. Ahmad, An-nasai, Abu Daud, Ibnu Majah.
Kedua, hadits-hadits khusus tentang bangkit dari duduk karena ada udzur, dengan du acara:
a.       Menekan tangan pada tanah
عَنْ أَبِى قِلَابَةَ قَالَ جَاءَنَا مَالِكُ بْنُ الْحُوَيْرِثِ فَصَلَّى بِنَا فِى مَسْجِدِنَا هَذَا فَقَالَ إِنِّى لَأُصَلِّى بِكُمْ وَمَا أُرِيْدُ الصَّلَاة َوَلَكِنْ أُرِيْدُ أَنْ أُرِيَكُمْ كَيْفَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صلّى الله عليه و سلّم يصلّى قَالَ أَيُّوْبُ فَقُلْتُ لِأَبِى قِلَابَةَ وَكَيْفَ كَانَتْ صَلَاتُهُ قَالَ مِثْلَ صَلَاتِهِ شَيْخِنَا هَذَا يَعْنِى عَمْرَو بْنَ سَلَمَةَ قَالَ أَيُّوْبُ وَكَانَ ذَلِكَ الشَّيْخُ يَتِمُّ التَّكْبِيْرَ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ عَنِ السَّجْدَةِ الثَّانِيَةِ جَلَسَ وَاعْتَمَدَ عَلَى الْأَرْضِ ثُمَّ قَامَ -رواه البخاري-
Dari Abu Qilabah, ia berkata, “Malik bin Al-huwairits dating kepada kami ketika kami berada di masjid. Lalu ia berkata, “Sesungguhnya aku akan shalat, dan saya tidak bermaksud shalat, tapi saya akan mengajar shalat sebagaimana aku melihat  Rasulullah saw. Shalat”. Ayub berkata, “Maka aku bertanya pada Abu Qilabah, “Bagaimana kaifiyat shalatnya?” Ia berkata, “Seperti kaifiyat shalat syekh ini, yakni Amr bin Salimah” Ayub berkata, “Dan syekh itu menyempurnakan takbir, dan apabila beliau mengangkat kepalanya dari sujud kedua, beliau duduk dan menekankan tangannya pada tanah, kemudian berdiri.” HR. Bukhari
b.       Menekankan tangan pada paha
عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قاَلَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صلّى الله عليه و سلّم إِذَا سَجَدَ وَضَعَ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ وَإِذَا نَهَضَ نَهَضَ عَلَى رُكْبَتَيْهِ وَاعْتَمَدَ عَلَى فَخِذِهِ
“Dari Wail bin Hujr, ia berrkata, “saya melihat Nabi saw bila sujud beliau menempatkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya, dan apabila banglit beliau bangkit atas kedua lututnya dan menekankan pada pahanya.” (HR. Abu Daud)
Adapun hadits-hadits tentang mengepalkan tangan pada tanah ketika bangkit dari duduk istirahat, haditsnya dha’if. Redaksinya sebagai berikut:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلّى الله عليه و سلّم كَانَ إِذَا قَامَ فِى صَلَاتِهِ وَضَعَ يَدَهُ عَلَى الْأَرْضِ كَمَا يَضَعُ الْعَاجِنُ
“dari Ibnu  Abbas, “Sesungguhnya Rasulullah saw. Apabila berdiri (bangkit) pada shalatnya, beliau menempatkan tangannya pada tanah sebagaimana al-ajin menempatkan tangannya.” At-talkhisul Habir, I:423, no. 392.
عَنِ الْأَزْرَقِ بْنِ قَيْسٍ رَأَيْتُ عَبْدَ اللّهِ بْنِ عُمَرَ وَهُوَ يَعْجِنُ فِى الصَّلَاة ِيَعْتَمِدُ عَلَى يَدَيْهِ إِذَا قَامَ كَمَا يَفْعَلُ الَّذِى يَعْجِنُ الْعَاجِنَ
Dari Al-azraq, saya meliahat Abdullah bin Umar bertopang dengan kedua tangannya apabila berdiri ketika shalat sebagaimana yang di lakukan oleh orang yang mengepal-ngepal adonan roti. HR. Ath-thabrani, Al-mu’jamul Ausath, III:210, No.3371;V:16 No. hadits 4019.
Al-hafidz Ibnu Hajar menerangkan:
قَالَ ابْنُ الصَّلَاح َفِى كَلَامِهِ عَلَى الْوَسِيْطِ : هَذَا الْحَدِيْثُ لَا يَصِحُّ وَلَا يُعْرَفُ وَلَا يَجُوْزُ أَنْ يَحْتَجُّ بِهِ. وَقَالَ النَّوَوِيُّ فِى شَرْحِ الْمُهَذَّبِ : هَذَا حَدِيْثُ ضَعِيْفٌ, أَوْ بَاطِلٌ لَا أَصْلَ لَهُ, وَقَالَ فِى التَّنْقِيْحِ : ضَعِيْفٌ بَاطِلٌ.
“Ibnu Shalah  dalam komentarnya pada kitab Al-wasith berkata, “Hadits ini tidak shahih dan tidak di kenal, serta tidak boleh di pakai hujah.”
An-nawawi dalam kitab syarh Al-muhadzdzab berkata, “Ini hadits yang dha’if, atau  bati yang tidak ada sumber asalnya.” Ia berkata dalam kitabnya At-tanqih, “dha’if batil.” (At-talkhisul Habir, I:625-626)
Kesimpulan: “ Bangkit dari sujud dengan cara mengepalkan tangan sambil menekankan tangan itu ke tanah tidak di syari’atkan.”
Kesimpulan ini ditetapkan pada siding Dewan Hisbah VI, di PC. Persis Lembang, 15 Sya’ban 1425 H/29 September 2004.


Sumber : Ikhtisar 10 Masalah Seputar SALAT dan ISBAL  Hal. 9-13
Bagi yang membutuhkan bukunya
Silahkan via kolom komentar atau chat via WA. 089633099798
 Keterangan :
Tulisan ini Insya Allah sesuai dengan aslinya (tanpa ada perubahan kalimat yang di sampaikan satupun)

Bagi yang butuh pdfnya klik link di bawah
Cara Melewati Link za.gl
Klik link di bawah




Terima Kasih Atas Kesediaan Untuk Berdonasi
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© 2011 Zeni Berkarya
Designed by Blog Thiet Ke
Posts RSSComments RSS
Back to top